Industri penerbangan adalah paradoks yang berjalan di atas presisi. Industri ini membutuhkan keberanian mengambil keputusan bisnis dalam lingkungan yang volatil, namun pada saat yang sama menuntut disiplin absolut terhadap keselamatan. Margin keuntungannya tipis, eksposur risikonya tinggi, dan reputasinya rapuh. Dalam sistem seperti ini, setiap keputusan strategis bukan hanya berdampak pada laporan keuangan, tetapi pada stabilitas ekosistem.

Rencana konsolidasi atau penguatan holding maskapai BUMN perlu ditempatkan dalam perspektif tersebut. Ia bukan sekadar agenda korporasi. Ia adalah desain arsitektur sistem nasional. Pertanyaannya bukan lagi apakah konsolidasi memungkinkan. Pertanyaannya adalah: apakah konsolidasi tersebut memperkuat integritas ekosistem aviasi Indonesia dalam jangka panjang?

Konsolidasi sebagai Desain Arsitektur, Bukan Sekadar Restrukturisasi

Model holding dalam industri penerbangan global bukan hal baru. Grup seperti Lufthansa Group, Air France-KLM Group, dan Singapore Airlines Group menunjukkan bahwa konsolidasi dapat menciptakan skala ekonomi, fleksibilitas jaringan, serta kekuatan pembiayaan. Namun keberhasilan mereka tidak lahir dari penyatuan nama atau penggabungan identitas, akan tetapi lahir dari diferensiasi yang tegas.

Michael Porter dalam Competitive Strategy menegaskan bahwa keunggulan kompetitif lahir dari pilihan yang jelas—bukan dari upaya menjadi segala sesuatu bagi semua orang. Dalam konteks holding maskapai, diferensiasi model bisnis menjadi fondasi utama. Maskapai full service dan maskapai charter atau layanan khusus harus memiliki positioning yang eksplisit, bukan berada dalam wilayah abu-abu yang saling tumpang tindih.

Tanpa diferensiasi, konsolidasi berisiko menciptakan kanibalisasi internal, distorsi struktur biaya, dan kebingungan pasar. Holding yang sehat bukan menyatukan semuanya menjadi seragam, tetapi mengorkestrasi peran dengan presisi.

Safety Governance: Fondasi yang Tidak Boleh Terfragmentasi

Dalam industri berisiko tinggi seperti penerbangan, integrasi finansial tanpa integrasi governance keselamatan adalah kesalahan mendasar.

International Civil Aviation Organization menekankan pentingnya Safety Management System (SMS) yang sistemik dan berkelanjutan. SMS bukan sekadar kepatuhan administratif, melainkan pendekatan manajemen risiko yang menyeluruh dan terintegrasi.

James Reason melalui konsep Swiss Cheese Model menunjukkan bahwa kecelakaan jarang disebabkan oleh satu kesalahan tunggal. Kecelakaan terjadi ketika lapisan pertahanan sistemik gagal secara simultan. Ketika struktur holding menambah kompleksitas organisasi, maka lapisan koordinasi dan potensi kegagalan pun bertambah.

AOC dapat tetap terpisah demi kepatuhan regulasi. Namun filosofi keselamatan tidak boleh terpisah. Konsolidasi harus menjadi kesempatan untuk memperkuat harmonisasi governance keselamatan, bukan sekadar efisiensi biaya. Dalam industri ini, efisiensi yang mengorbankan disiplin operasional adalah efisiensi yang rapuh.

Budaya Organisasi: Infrastruktur yang Tidak Terlihat

Sering kali restrukturisasi berfokus pada angka, struktur, dan skema pembiayaan. Padahal keberhasilan jangka panjang sangat ditentukan oleh budaya.

Edgar Schein dalam Organizational Culture and Leadership menjelaskan bahwa budaya adalah asumsi dasar yang membentuk bagaimana organisasi bereaksi terhadap tekanan. Dalam holding maskapai, potensi friksi budaya sangat nyata:

  • Entitas legacy carrier dengan sejarah panjang.
  • Entitas yang lebih lincah dengan mentalitas efisiensi tinggi.
  • Model bisnis berbeda.
  • Orientasi pasar berbeda.

Tanpa penyelarasan nilai inti, holding dapat berjalan dengan dua kompas moral berbeda. Peter Drucker pernah mengingatkan bahwa budaya akan selalu mengalahkan strategi jika tidak dikelola dengan disiplin. Konsolidasi tanpa harmonisasi nilai adalah bangunan dengan fondasi yang berbeda-beda. Budaya keselamatan, profesionalisme, dan integritas harus menjadi bahasa bersama di seluruh entitas.

Kepemimpinan: Institusi Lebih Penting daripada Figur

Diskursus publik sering kali bertanya: siapa yang memimpin? Namun dalam sistem kompleks, pertanyaan yang lebih relevan adalah: bagaimana sistem memimpin?

James MacGregor Burns dan Bernard Bass membedakan kepemimpinan transaksional dan transformasional. Industri penerbangan membutuhkan keduanya—ketegasan prosedur dan visi jangka panjang. Namun yang lebih penting adalah institusionalisasi nilai tersebut.

Holding yang matang tidak boleh bergantung pada figur tertentu. Holding harus bertumpu pada governance yang stabil, standar yang konsisten, dan mekanisme pengawasan yang kuat. Standar tidak boleh berubah karena pergantian manajemen. Safety tidak boleh menjadi agenda musiman. Di sinilah kualitas kepemimpinan institusional diuji.

Model Paling Rasional untuk Indonesia

Dalam konteks Indonesia sebagai negara kepulauan, pendekatan paling rasional adalah:

  1. AOC tetap terpisah demi kepatuhan regulasi dan fokus operasional.
  2. Diferensiasi pasar ditegaskan secara eksplisit.
  3. Strategi armada tidak saling tumpang tindih.
  4. Sinergi difokuskan pada procurement, pembiayaan, dan dukungan teknis.
  5. Safety governance diselaraskan dalam satu kerangka nilai holding.

Pendekatan ini menyerupai relasi antara Singapore Airlines dan Scoot. Dua entitas dengan model bisnis berbeda, namun berada dalam satu payung nilai dan disiplin. Sinergi terjadi di belakang layar, diferensiasi terjadi di depan pasar. Itulah keseimbangan yang menjaga stabilitas.

Dimensi Ekosistem Nasional

Penerbangan Indonesia bukan sekadar entitas korporasi akan tetapi merupakan infrastruktur konektivitas nasional. Keputusan strategis holding akan berdampak pada:

  • Konektivitas wilayah terpencil.
  • Stabilitas harga tiket.
  • Ketahanan logistik nasional.
  • Daya saing pariwisata.
  • Citra Indonesia di mata internasional.

Dalam lanskap global, kita berhadapan dengan maskapai seperti Emirates dan Qatar Airways yang membangun reputasi melalui konsistensi kualitas dan arsitektur sistem yang kuat. Kita tidak bisa bersaing hanya dengan semangat. Kita harus bersaing dengan desain.

Refleksi Akhir

Industri penerbangan mengajarkan satu pelajaran mendasar: sistem yang baik tidak dibangun oleh keputusan yang tergesa, melainkan oleh konsistensi yang dijaga hari demi hari.

Konsolidasi, jika diputuskan, harus menjadi wujud kedewasaan institusional—bukan sekadar respons terhadap tekanan jangka pendek. Konsolidasi harus dirancang dengan kesadaran bahwa yang dipertaruhkan bukan hanya efisiensi korporasi, tetapi kepercayaan publik, keselamatan operasional, dan masa depan konektivitas bangsa.

Dalam kokpit, setiap keputusan selalu mempertimbangkan keseluruhan sistem, bukan hanya satu instrumen. Prinsip yang sama berlaku dalam membangun ekosistem aviasi nasional: integritas sistem harus selalu menjadi horizon utama.

Menyelaraskan arah bukan tentang menyatukan semuanya, melainkan memastikan setiap bagian bergerak dengan komitmen yang sama terhadap keselamatan dan keberlanjutan.

Tinggalkan komentar