Metode POACE Dalam Organisasi Profesi Pilot

poace

Kegiatan organisasi  dalam pencapaian visi, misi dan tujuan organisasi tidak jarang menemukan kegagalan dalam pencapaiannya. Permasalahan dan kendala yang dihadapi beragam dan sangat dinamis. Bisa saja dari faktor manusia, lingkungan atau variable lain yang sering tidak terduga.

Pada semua organisasi terutama organisasi profesi pilot memerlukan suatu Perencanaan (Planning), Pengorganisasian (Organizing), Pelaksanaan (Actuating), Pengendalian (Controlling) dan Evaluasi (Evaluating) untuk mengelola dan memajukan suatu organisasi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Dalam konteks organisasi, pendekatan dalam menjalankan organisasi ini disebut POACE. Pendekatan tersebut akan memudahkan dalam proses pelaksanaan tugas dalam organisasi.

  1. Planning (Perencanaan)

Planning (Perencanaan) adalah proses mendefinisikan tujuan organisasi dan membuat strategi untuk mencapai tujuan serta mengembangkan rencana aktivitas kerja organisasi. Perencanaan merupakan suatu cara menghampiri masalah dan dalam penghampiran masalah itu maka para perencana berbuat merumuskan apa saja yang harus dikerjakan dan bagaimana mengerjakannya. Perencanaan merupakan salah satu syarat mutlak bagi setiap kegiatan organisasi. Di dalam setiap perencanaan ada dua faktor yang harus diperhatikan, yaitu faktor tujuan dan faktor sarana, baik sarana personel maupun material.

Langkah-langkah dalam perencanaan meliputi hal-hal sebagai berikut :

  • Menentukan dan merumuskan tujuan yang hendak dicapai.
  • Meneliti masalah-masalah atau pekerjaan-pekerjaan yang akan dilakukan.
  • Mengumpulkan data dan informasi-informasi yang diperlukan.
  • Menentukan tahap-tahap atau rangkaian tindakan.
  • Merumuskan bagaimana masalah-masalah itu akan dipecahkan dan bagaimana pekerjaan-pekerjaan itu akan diselesaikan.

Strategi Perencanaan merupakan salah satu hal yang penting dan saling terkait satu sama lain. Proses perencanaan dalam organisasi merupakan aktivitas yang berusaha merumuskan apa saja yang akan melaksanakan dan mengendalikannya agar tujuan organisasi tercapai. Ada dua tipe perencanaan dasar, yaitu:

  • Perencanaan strategis: proses yang dilakukan suatu organisasi untuk menentukan strategi atau arahan, serta mengambil keputusan untuk mengalokasikan sumber dayanya untuk mencapai strategi ini.
  • Perencanaan operasional: perencanaan yang mengatur kegiatan sehari-hari anggota organisasi.

Dalam melakukan perencanaan strategis sebaiknya kita melihat kepada Kekuatan (Strengths), Kelemahan (Weakness), Peluang (Opportunities) dan Ancaman (Threats) yang mungkin  terjadi pada suatu organisasi. Metode ini sering disebut dengan SWOT. Sehingga diharapkan dapat meningkatkan kekuatan tersebut, mengatasi kelemahan yang ada dengan melihat peluang-peluang yang mungkin dicapai dan mengatasi ancaman-ancaman dari faktor luar organisasi.

SWOT merupakan metode perencanaan strategis yang digunakan untuk mendeterminasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman dalam suatu organisasi. Analisis SWOT merupakan identifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi organisasi. Analisis ini didasarkan pada hubungan atau interaksi antara unsur-unsur internal yaitu kekuatan dan kelemahan dan tehadap unsur-unsur eksternal yaitu peluang dan ancaman. Analisis SWOT terdiri dari empat faktor, yaitu:

  • Strengths (Kekuatan)
    Merupakan kondisi kekuatan yang ada pada organisasi atau konsep organisasi yang ada. Kekuatan yang dianalisis merupakan semua faktor yang terdapat pada tubuh organisasi itu sendiri, seperti :
  • Jumlah dan sebaran populasi yang menjadikan keunggulan dalam hal networking.
  • Kekuatan pengaruh organisasi secara menyeluruh ke hampir semua operator penerbangan dan otoritas untuk berpartisipasi kepada kemajuan dunia penerbangan nasional.
  • Proyeksi kekuatan finansial yang besar dalam menggerakkan kegiatan organisasi.
  • Weakness (Kelemahan)
    Merupakan kondisi kelemahan yang ada pada organisasi atau konsep organisasi yang ada. Kelemahan yang dianalisis merupakan faktor yang terdapat pada tubuh organisasi  itu sendiri, seperti :

    • Sangat terbatasnya waktu kerja bagi Badan Pengurus.
    • Kendala Badan Pengurus melakukan kordinasi kerja, baik kedalam maupun keluar organisasi.
    • Rendahnya kepastian keberadaan Badan Pengurus apabila diperlukan dalam masalah yang sifatnya memiliki tingkat urgensi tinggi.
    • Tingkat kehadiran yang tidak akan maksimal pada pertemuan-pertemuan organisasi dikarenakan waktu libur anggota yang mungkin tidak seragam.
    • Sulitnya pengambilan keputusan dalam hal-hal yang membutuhkan persetujuan kolektif dari seluruh anggota Badan Pengurus dan / atau anggota.
  • Opportunities (Peluang)
    Kondisi yang merupakan peluang di luar organisasi dan memberikan peluang berkembang bagi organisasi atau konsep organisasi itu sendiri di masa depan. Misalnya seperti : kebijakan pemerintah dan kondisi lingkungan sosial.
  • Threats (Ancaman)
    Kondisi yang merupakan ancaman bagi organisasi yang datang dari luar organisasi dan dapat mengancam eksistensi organisasi  itu sendiri. Misalnya seperti : peraturan atau kebijakan pemerintah dan situasi politik nasional.

Kemudian didalam perencanaan itu sendiri ada beberapa faktor yang harus dipertimbangkan seperti : Spesifik (Specific), Terukur (Measurable), Tercapai (Achievable), Realistis (Realistic) dan Waktu (Time) yang juga disebut faktor SMART .

  • Specific (Spesifik)
    Perencanaan yang dibuat harus jelas maksud maupun ruang lingkupnya. Tidak terlalu melebar dan tidak juga terlalu idealis.
  • Measurable (Terukur)
    Dalam pembuatan program kerja atau rencana harus dapat diukur tingkat keberhasilannya.
  • Achievable (Tercapai)
    Hasil akhir dari perencanaan yang dibuat harus dapat dicapai bukan hanya sekedar angan-angan.
  • Realistic (Realistis)
    Perencanaan harus sesuai dengan kemampuan dan sumber daya yang ada. Tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sulit tetapi tetap ada tantangan.
  • Time (Waktu)
    Perencanaan yang dibuat harus mempunyai batas waktu yang jelas. Mingguan, bulanan, triwulan, semester, atau tahunan, sehingga mudah dinilai dan dievaluasi.
  1. Organizing (Pengorganisasian)

Agar tujuan tercapai maka dibutuhkan pengorganisasian. Biasanya dalam organisasi diwujudkan dalam bentuk bagan atau struktur organisasi yang kemudian di pecah menjadi berbagai jabatan.

Dari berbagai jabatan yang terbentuk harus memiliki penjelasan mengenai deskripsi fungsi, tugas, wewenang dan tanggung jawabnya. Semakin tinggi suatu jabatan biasanya semakin tinggi tugas, tanggung jawab dan wewenangnya.

  1. Actuating (Pelaksanaan)

Perencanaan dan pengorganisasian yang baik kurang berarti bila tidak diikuti dengan pelaksanaan kerja. Untuk itu maka dibutuhkan kerja keras, kerja cerdas dan kerjasama. Semua sumber daya manusia yang ada harus dioptimalkan untuk mencapai visi, misi dan program kerja organisasi.

Pelaksanaan dapat dilakukan setelah sebuah organisasi memiliki perencanaan dan melakukan pengorganisasian dengan memiliki struktur organisasi termasuk tersedianya personil sebagai pelaksana. Pelaksanaan merupakan usaha menggerakkan segenap anggota sedemikain rupa sehingga mereka berkeinginan dan berusaha untuk mencapai sasaran organisasi. Pada akhirnya pelaksanaan merupakan upaya untuk menjadikan perencanaan menjadi kenyataan dengan melalui berbagai pengarahan dan motivasi agar setiap anggota dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya.

Pentingnya pelaksanaan dalam organisasi adalah untuk menekankan penggerakkan pada kegiatan yang berhubungan langsung dengan anggota dalam organisasi. Perencanaan dan pengorganisasian yang baik kurang berarti bila tidak diikuti dengan penggerakkan seluruh potensi sumber daya manusia dan materi pada pelaksanaan tugas.

  1. Controlling (Pengendalian)

Agar organisasi berjalan sesuai dengan visi, misi, aturan dan  program kerja maka dibutuhkan pengendalian. Baik dalam bentuk supervisi, pengawasan, inspeksi hingga audit.

Pengendalian bisa saja dilakukan dengan cara melekat, berkelanjutan atau temporer yang disesuaikan dengan kebutuhan aktual dan faktual dari organisasi.

  1. Evaluation (Evaluasi)

Evaluasi adalah suatu proses yang teratur dan sistematis dalam membandingkan hasil yang dicapai dengan tolak ukur yang telah ditetapkan kemudian di buat kesimpulan dan penyusunan saran pada setiap tahap dari pelaksanaan program.

Tujuan evaluasi adalah untuk meningkatkan mutu program, memberikan penggunaan sumber-sumber yang yang ada dalam kegiatan , memberikan kepuasan dalam pekerjaan dan menelaah setiap hasil yang telah direncanakan. Evaluasi sangat bermanfaat agar organisasi tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa depan. Organisasi yang gagal dalam mengidentifikasi kesalahan akan melakukan kesalahan yang sama secara terus menerus dan pada akhirnya tidak akan berkembang sebagai organisasi yang unggul.

Dengan mengaplikasikan metode POACE pada suatu organisasi diharapkan hasil bahwa organisasi tersebut bisa berjalan dengan langkah-langkah yang baik dan benar sehingga organisasi itu bisa berkembang sesuai dengan tujuan yang telah direncanakan.

“Moving Forward”

Heri Martanto

Iklan

Organisasi Yang Ramping dan Efisien

Di saat awal terbentuknya organisasi hal yang sering menjadi kendala adalah mengenai bentuk dari organisasi. Visi dan misi yang telah dicanangkan seringkali tidak bisa diejawantahkan dalam satu kali kepengurusan. Visi pasti akan menjangkau jauh ke depan dan tidak akan bisa tercapai dalam sekejap tetapi melalui perjalanan yang cukup panjang.

Bagaimana dengan organisasi profesi seperti yang sudah dimiliki saat ini? Sebenarnya hampir sama tetapi memang permasalahan yang dihadapi sekarang sudah cukup kompleks dan terhitung terlambat untuk memulainya. Tetapi seperti pepatah ” Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali “. Kemudian bentuk organisasi seperti apa yang diharapkan saat ini?

Tidak ada salahnya jika kembali melihat pada permasalahan yang harus cepat ditangani dibandingkan hanya dengan merefleksikan angan – angan dan ambisi dalam melihat bentuk organisasi. Tidak juga hanya mencontoh dari organisasi di luar negeri yang sudah ada tetapi juga harus lebih inovatif dan solutif karena disinilah yang akan menjadi  letak keunggulan komparatif pilot Indonesia dibanding dengan pilot asing yang saat ini juga menjadi isu utama akan keberadaan mereka di negeri ini.

Mungkin akan terkesan pragmatis jika melihat kepada masalah kontemporer saat ini, tetapi inilah fakta yang harus  dihadapi. Dalam pandangan kami beberapa masalah yang perlu penanganan secara cepat dan tidak terbatas pada :

  1. Konsolidasi organisasi secara menyeluruh.
  2. Keselamatan dan keamanan penerbangan.
  3. Membanjirnya pilot asing ke dalam maskapai penerbangan nasional.
  4. Pengangguran pilot lokal yang semakin meningkat.
  5. Kebijakan, peraturan ataupun undang – undang yang bertentangan dengan kaidah penerbangan.
  6. Hubungan profesi pilot dengan maskapai penerbangan nasional.

Dari masalah yang sedang mencuat tersebut mungkin bisa  diambil benang merahnya jika semua itu terkait dengan aspek dasar pada organisasi profesi pilot yaitu : Safety and Security, Legal, Technical and Social. Jika merujuk pada aspek tersebut maka departemen yang terbentuk akan menjadi ramping dan efisien karena dari semua departemen itu memiliki keterkaitan dan bisa saling bekerja sama. Kemudian dari tiap  departemen mempunyai komite yang terkait dengan tipe operasi yang ada saat ini.

Bentuk dasar organisasi seperti ini tidak tertutup kemungkinan untuk berubah sesuai dinamika di masa depan. Hanya perlu menambahkan departemen atau komite yang dinilai perlu untuk menjawab dinamika yang terjadi. Selain itu organisasi memerlukan juga orang – orang yang handal, berdedikasi dan memiliki integritas untuk duduk dalam organisasi. Siapa lagi kalau bukan dari semua anggota sesama profesi pilot ?

Dalam masa awal kepengurusan organisasi yang akan terbentuk ini tidak ketinggalan juga peran aktif dan kontribusi dari semua anggotanya untuk kelancaran roda organisasi dan ikut mengawasi jalannnya organisasi karena organisasi adalah milik bersama semua anggota, bukan milik pribadi ataupun golongan.

“Moving Forward”
Heri Martanto

Meningkatnya Ancaman Teror Bom

Teror bom pada 14/01/2016 di Jakarta yang menelan korban jiwa sangat meresahkan masyarakat saat ini. Ternyata apa yang selama ini menjadi ancaman menjadi sebuah kenyataan dan para pelaku teror ini tidak mengenal tempat dan waktu.

Dunia penerbangan nasional selama ini pun masih rentan dengan adanya berbagai ancaman bom. Tercatat selama tahun 2015 ada 10 kasus ancaman bom terhadap penerbangan. Dari sekian banyaknya kasus itu ternyata masih banyak ditemukan jika hal itu masih berupa upaya pengancaman dengan motif yang tidak mendasar. Sebagian besar ancaman terjadi karena faktor keisengan atau faktor emosional dari pengguna jasa penerbangan.

Demikian data ancaman bom sepanjang tahun 2015 :

  1. 23 April 2015 Lion Air JT-250 rute CGK – PDG di Bandara Soekarno – Hatta, Jakarta.
  2. 29 April 2015 Batik Air ID-6870 rute CGK – PLM di Bandara Soekarno – Hatta, Jakarta.
  3. 1 Mei 2015 Lion Air JT-353 rute PDG – CGK di Bandara Minangkabau, Padang.
  4. 4 Mei 2015 Lion Air JT-973 rute BTH – KNO di Bandara Hang Nadim, Batam.
  5. 7 Mei 2015 Lion Air JT-379 rute BTH – KNO di Bandara Hang Nadim, Batam.
  6. 13 Mei 2015 Lion Air JT-330 rute CGK – PLM di Bandara Soekarno – Hatta, Jakarta.
  7. 30 September 2015 Citilink QG-143 rute KNO – CGK di Bandara Kualanamu, Medan.
  8. 26 November 2015 Batik Air ID-6179 rute AMQ – CGK di Bandara Pattimura, Ambon.
  9. 2 Desember 2015 Wings Air IW- 1504 rute AMQ – LUV di Bandara Pattimura, Ambon.
  10. 26 Desember 2015 Batik Air ID-6541 rute KOE – CGK di Bandara El Tari, Kupang.

Dari sekian banyaknya kasus ancaman bom tersebut memang tidak satupun yang menjadi kasus ledakan bom yang sebenarnya. Bagaimana kita menyikapi hal seperti ini dari sudut pandang profesi kita? Ancaman seperti ini yang terjadi dalam rentang waktu yang cukup pendek dan frekuensi yang cukup sering bisa mempengaruhi faktor psikologis manusia. Bisa saja hal ini terjadi dengan kesengajaan agar kita menjadi bosan mendengarnya dan lengah terhadap ancaman yang sebenarnya dan dijalankan dengan cara terorganisir.

Tidak tertutup kemungkinan para pelaku teror akan mencoba melakukan ancaman atau peledakan pada suatu penerbangan. Sudah semestinya ada langkah – langkah strategis dan komprehensif dari semua pihak yang berkepentingan baik dari pemerintah, operator, otoritas bandara, penegak hukum dan kita sebagai ujung tombak misi penerbangan. Semua potensi yang bisa menjadi celah dari hal yang terkecil sudah semestinya diwaspadai dan ditangani dengan baik sebelum bereskalasi menjadi hal yang jauh lebih besar. Harus dilakukan evaluasi mengenai prosedur keamanan penerbangan yang sudah ada agar bisa mencapai sesuatu yang ideal dan teraman.

Contoh kasus untuk peledakan bom nyata pada pesawat dan fasilitas lain penerbangan sudah cukup banyak, mari kita kilas balik sejenak contoh kasus-kasus peledakan bom yang terjadi di dunia penerbangan :

  • Pan Am Flight 830 11 Agustus 1982 ,Boeing 747. Bom yang meledak tersebut dipasang oleh  Mohammed Rashed yang terhubung oleh grup teroris dari Palestina.
  • Gulf Air Flight 771 23 September 1983, meledak oleh bom pada saat pendaratan menuju Abu Dhabi International Airport, bom dipasang di kompartemen bagasi.
  • Pan Am Flight 103/Lockerbie,Boeing 747. Korban jiwa 270 orang, pada 21 December 1988, pesawat hancur oleh bom PETN.
  • Metrojet Flight 9268, Korban jiwa 224 orang. Di daerah Sinai Peninsula, Mesir pada 31 Oktober 2015. Bom diklaim dilakukan oleh ISIL.

Sebagai profesi pilot sudah jelas kita harus bisa memberikan kontribusi kepada pihak berwenang untuk meningkatkan faktor keamanan penerbangan ini. Jika suatu penerbangan terancam bukan hanya pesawat atau penumpangnya saja yang terancam tetapi kita sendiri juga terancam. Dalam menjalankan tugas keseharian kita sebagai pilot dalam kerangka keamanan penerbangan ada baiknya kita melakukan hal – hal seperti :

  1. Mereview  prosedur ancaman bom, terutama strategi yang akan kita lakukan dalam keadaan darurat jika bom ditemukan di pesawat. Secara umum jika bom ditemukan di dalam pesawat langkah yang bisa kita lakukan seperti :
    • Tetap tenang dan jangan panik.
    • Koordinasi dengan pihak ATC dan operator.
    • Persiapkan proses disembarkasi yang cepat dan lancar (bila pesawat pada posisi parkiran pesawat).
    • Posisikan pesawat pada area isolasi (bila berada di taxiway).
    • Turunkan ketinggian pesawat secara perlahan untuk meminimalkan perubahan tekanan udara dan atur suhu di dalam pesawat sestabil mungkin (bila pesawat sudah mengudara).
    • Lakukan pencarian lokasi bom dan pastikan lokasi ditemukannya bom tidak bergeser atau tersentuh.
    • Matikan sumber kelistrikan di dekat area bom jika memungkinkan.Pindahkan lokasi penumpang sejauh mungkin dari posisi bom.
    • Persiapkan langkah pemindahan bom ke area Least Risk Bomb Location (umumnya di pintu kanan belakang) dan lakukan teknik untuk mengurangi efek dari ledakan jika proses pendaratan tidak bisa segera dilakukan.
    • Setelah disembarkasi selesai maka posisikan penumpang dan kru sejauh mungkin dari pesawat, paling tidak 100 meter dari pesawat.
    • Koordinasikan penanganan bom dengan pihak yang berwenang.
  2. Persiapan mental dan pikiran dalam menghadapi dan mengatasi situasi darurat dalam penerbangan. Tujuan utama dari mengatasi keadaan darurat ini adalah untuk keselamatan, keamanan dan perlindungan maksimum bagi penumpang, kru dan aset perusahaan.
  3. Meningkatkan kewaspadaan dari titik awal proses penerbangan. Lakukan pengamatan terhadap hal – hal yang bisa menjadi potensi dari lolosnya pemasukan bom ke dalam pesawat. Tingkatkan kewaspadaan pada berbagai lini yang terkait dengan operasional penerbangan.
  4. Memberikan briefing dengan penekanan pada keberhasilan proses teamwork dalam mengangani potensi masalah yang bisa mengganggu penerbangan. Lakukan review prosedur kepada seluruh kru yang bertugas akan gugus tugas masing – masing dan tekankan pentingnya CRM dalam keberhasilan misi penerbangan.
  5. Melakukan koordinasi dengan pihak terkait baik dari operator, otoritas atau penegak hukum bila menemukan hal – hal yang  mencurigakan. Laporkan segala potensi yang bisa membahayakan seperti penumpukan penumpang menjelang X-ray scan, prosedur body scan, area masuk terbatas atau hal lain yang berhubungan dengan pihak di luar juridiksi kita.
  6. Tidak ketinggalan pula untuk berdoa demi keselamatan kita semua. Apapun usaha terbaik yang kita lakukan tidak terlepas dari kuasa Tuhan YME yang menentukan.

Mungkin hal – hal tersebut bisa membantu dalam kelancaran tugas penerbangan kita dalam konteks tercapainya keamanan penerbangan yang baik.

 

“Moving Forward”

Heri Martanto

Sambutan Penutup Ketua 3 Formatur (Ikatan Pilot Indonesia)

Alhamdulillah, puji syukur ke hadirat Tuhan YME Kongres 1 Ikatan Pilot Indonesia telah berhasil terlaksana dengan baik berkat kerja keras kita semua, anggota Ikatan Pilot Indonesia.

Dewan ketua terpilih untuk kepengurusan definitif telah terpilih Capt. Bambang A., Capt. Rama Noya dan Capt. Wiwekananda. Saya ucapkan selamat kepada para ketua terpilih. Saatnya kita mulai kembali fokus dan tetap men…dukung keberadaan organisasi kebanggaan kita ini. Tantangan ke depan masih banyak, tetaplah semangat berpartisipasi dalam mewujudkan Ikatan Pilot Indonesia yang mandiri, bermartabat, bebas dari kepentingan politis, bebas dari ekslusifitas golongan dan tentunya senantiasa profesional. Percayalah di tangan mereka semua, insya Allah semua harapan kita bersama bisa terwujud.

Bersamaan dengan terpilihnya ketua baru ini, maka masa bakti saya sebagai Ketua 3 Formatur Ikatan Pilot Indonesia pun telah berakhir. Turut pula saya menyampaikan terima kasih yang sebesar – besarnya kepada seluruh anggota yang telah mendukung terbentuknya organisasi ini. Dan tidak lupa pula terima kasih sebesar – besarnya kepada seluruh team yang terlibat dalam mendukung suksesnya acara Kongres Ikatan Pilot Indonesia yang pertama ini.

Besar harapan kita demi kejayaan profesi pilot Indonesia dan masa depan penerbangan Indonesia yang lebih baik.

“Moving Forward”
Heri Martanto

Menjelang Kongres Pertama Ikatan Pilot Indonesia (Ikatan Pilot Indonesia)

Menjelang kongres Ikatan Pilot Indonesia ini, dengan segala kerendahan hati perkenankan saya menyampaikan beberapa hal kepada rekan – rekan seprofesi sekalian.

Perjalanan kita bersama dalam naungan Ikatan Pilot Indonesia terbilang sangat singkat. Jatuh bangun usaha untuk menyatukan segenap pilot ternyata sudah membuahkan hasil. Jumlah keanggotaan yang sudah mencapai ribuan saat ini ditambah lagi dengan semangat donasi yang tinggi membuat kami cukup berbahagia. Ternyata usaha kita bersama tidak sia – sia!

Menuju kongres pertama kita inipun akan dilakukan pemilihan Dewan Ketua Ikatan Pilot Indonesia yang definitif untuk pertama kalinya. Pilihan calon sudah ditampilkan oleh pihak panitia. Sebagai salah satu calon saya sangat bersyukur karena saya dikelilingi para calon yang luar biasa dalam pandangan saya. Yakinkanlah kepada diri kita sendiri bahwa semua calon itu siap untuk mendedikasikan dirinya untuk masa depan Ikatan Pilot Indonesia.

Saatnya bagi kita semua untuk melepaskan pemikiran sektoral dan mulai menjatuhkan pilihan sesuai hati nurani. Tidak perlu lagi dukung – mendukung tetapi pilihanlah yang diperlukan. Mari kita lihat profil, visi misi dan program kerja dari para calon dan refleksikan kepada diri kita mana yang paling sesuai. Menang atau kalah bukan tujuan tetapi dukungan anda semua yang dibutuhkan oleh organisasi ini agar Ikatan Pilot Indonesia berjalan seperti yang kita harapkan bersama.

Pilihan dan kehadiran anda semua sangat diharapkan, bersama kita dukung siapapun yang terpilih untuk keberhasilan masa depan profesi pilot Indonesia. “Jayalah pilot Indonesia”.

Salam.
“Moving Forward”
Heri Martanto

Bersatu Atau Mundur ! (Ikatan Pilot Indonesia)

Perjalanan dunia penerbangan Indonesia sampai saat ini masih cukup memprihatinkan. Mulai dari masih banyaknya kecelakaan, Undang-Undang, Peraturan maupun Keputusan yang membelenggu profesi pilot. Ditambah lagi dengan variabel tantangan global baik itu MEA, Dewan ICAO maupun membanjirnya pilot asing ke Indonesia.

Langkah apa yang harus kita perbuat untuk menjawab itu semua? Haruskah kita berdiam diri dan menunggu langkah pemerintah, analis ataupun pengamat untuk menjawab masalah itu? Tentu jawabnya tidak. Dengan profesionalisme yang kita miliki sudah semestinya kita bisa turut menjawabnya. Kemudian, apakah kita harus berjalan sendiri – sendiri? Kembali lagi jawabnya adalah tidak. Kita harus mampu bersinergi dalam satu naungan yang memiliki legitimasi.

Dengan adanya Ikatan Pilot Indonesia ini sudah tepat waktunya bagi kita bergandengan tangan dan bergerak maju. Dengan bersatunya pilot Indonesia niscaya kita akan bisa maju bersama menuju penerbangan yang kita harapkan bersama. Apabila kita tidak bisa bersatu, niscaya kemunduran yang akan kita alami.

Siapapun pasti akan bergetar bila mendengar kata “bersatunya pilot Indonesia”. Akan terbersit banyak pertanyaan, apa yang akan kita lakukan? Mampukah kita membuktikannya? Dengan segala optimisme harus saya katakan bisa! Dengan segala kemampuan kita melakukan mitigasi, analisa, membuat solusi dan rencana aksi kita pasti bisa. Kita harus bisa, jika tidak maka bersiaplah untuk menghadapi kemunduran profesi pilot itu sendiri. Mungkin harus saya katakan disini “Bersatu atau mundur!”

Mana yang anda pilih saya serahkan kembali jawabannya ke hati nurani rekan – rekan sekalian.

“Moving Forward”
Heri Martanto

Renungan Profesi Pilot Awal Tahun 2016 (Ikatan Pilot Indonesia)

Sepanjang tahun 2015 mungkin bisa dikatakan tahun yang kelam untuk profesi pilot. Kejadian demi kejadian berupa kecelakaan penerbangan berulang kali terjadi. Dalam catatan kami terjadi 11 peristiwa baik itu berupa insiden maupun aksiden sebagai berikut :

  1. 11/01/2015 Trigana DHC6 di Enarotali , runway excursion.
  2. 03/02/2015 Garuda ATR 72 di Bandara Lombok Praya, runway excursion, nose gear collapse.
  3. 04/03/2015 Deraya ATP di Wamena, runway excursion on landing, gear collapse, broken wing.
  4. 20/04/2015 Wings ATR 72 di Sumbawa Besar, 4.8G touchdown and go-around.
  5. 02/06/2015 Garuda B737-800 di Makassar, overrun runway on landing.
  6. 02/08/2015 Citilink A320 di Padang, runway excursion on landing.
  7. 16/08/2015 Trigana ATR 42 di Oksibil, aircraft collided with terrain.
  8. 28/08/2015 Cardig B737-300 di Wamena, main gear collapse on landing short of runway.
  9. 02/10/2015 Aviastar DHC6 dekat Makassar, aircraft collided with terrain.
  10. 06/11/2015 Batik B737-900 di Yogyakarta, overrun runway on landing.
  11. 21/12/2015 Kalstar E195 di Kupang , overrun runway on landing.

Kecelakaan penerbangan masih demikian banyak terjadi yang berhubungan dengan profesi pilot. Apa saja faktor penyebabnya? Mengapa terjadi? Siapa yang harus bertanggung jawab? Dan masih akan ada banyak pertanyaan lainnya atas hal ini.

Pasti dibutuhkan suatu langkah yang komprehensif dari semua pemangku kepentingan di bidang penerbangan nasional untuk menanggulangi dan mencegah kejadian – kejadian ini terulang kembali. Sebelum kita melangkah ke lingkup yang lebih besar ada baiknya kita sebagai seorang pilot profesional melakukan penilaian kedalam atau “self assessment” akan faktor penting yang terkadang terlupakan karena rutinitas dari pekerjaan kita ini.

Mari kita melihat kembali kepada prinsip “Airmanship” yang sering kita dengar tetapi terkadang kita lupa maksud dari kata tersebut. “Airmanship is the consistent use of good judgment and well-develop skills to accomplish flight objective”(Tony Kern, 1996). “Airmanship” akan muncul berdasar dari : “Discipline”, “Skills”, “Proficiency”, “Knowledge”, “Sittuational Awareness” dan “Judgment”. Konsekuensi dari kurangnya “Airmanship” ini bisa memunculkan insiden atau aksiden.

Airmanship ini begitu penting bagi profesi kita, mencakup dari disiplin profesi kita sampai kepada pengambilan keputusan sewaktu menjalankan tugas penerbangan. Jika salah satu aspek tidak terpenuhi maka kita belum bisa dikatakan memiliki airmanship yang baik yang pada akhirnya akan menurunkan nilai profesionalitas kita sendiri.

Di tahun 2016 yang baru tiba ini tidak ada salahnya jika masing – masing dari kita memasukkan peningkatan airmanship ini dalam resolusi tahunan kita demi keselamatan penerbangan dan profesionalisme yang lebih baik sebagai seorang pilot bagi kita semua.

“Moving Forward”
Heri Martanto