“Sustainability dalam penerbangan mungkin bukan dimulai dari teknologi, tetapi dari manusia di dalam sistemnya.”
Di hampir setiap forum penerbangan internasional, percakapan tentang sustainability selalu berakhir di tempat yang sama: karbon.
Emisi. Net-zero 2050. SAF. CORSIA.
Semua itu penting — dan saya tidak hendak mengabaikannya. Namun ada sesuatu yang mengganjal ketika satu kata mendominasi seluruh percakapan tentang keberlanjutan industri yang jauh lebih kompleks dari itu.
Sustainability yang hanya berbicara soal karbon adalah sustainability yang setengah jalan.
Industri penerbangan bukan sekadar mesin penghasil emisi. Ia adalah sistem besar yang melibatkan manusia yang membuat keputusan operasional setiap hari di ketinggian 35.000 kaki, maskapai yang harus bertahan dalam industri bermargin tipis sambil berhadapan dengan tuntutan transformasi, dan jaringan ekosistem — regulator, bandara, industri energi, kebijakan transportasi — yang menentukan apakah seluruh sistem itu bisa berfungsi dalam jangka panjang.
Bagi Indonesia, pertaruhan ini sangat nyata. Penerbangan berkontribusi USD 62,6 miliar terhadap PDB nasional dan menopang sekitar 6 juta lapangan kerja. Di ribuan pulau yang tidak terjangkau moda transportasi lain, penerbangan bukan sekadar pilihan — ia adalah satu-satunya jalur konektivitas yang ada. Ketika kita berbicara tentang sustainability penerbangan di Indonesia, kita sedang berbicara tentang ketahanan konektivitas bangsa.
Pertanyaan yang relevan bukan hanya: seberapa besar emisi karbon yang bisa kita kurangi?
Pertanyaan yang lebih mendasar: apakah sistem penerbangan kita cukup kuat untuk bertahan dan terus melayani masyarakat dalam jangka panjang?
Untuk menjawab pertanyaan itu, saya merangkum refleksi ini ke dalam kerangka yang terinspirasi dari Socio-Technical Systems Theory — pendekatan yang dikembangkan Eric Trist di Tavistock Institute pada 1950-an. Prinsip dasarnya sederhana namun sering dilupakan: sistem sosial dan sistem teknis tidak bisa dioptimalkan secara terpisah. Keduanya harus bergerak bersama, atau keduanya akan gagal bersama.
Dalam konteks penerbangan, ini berarti tiga lapisan yang saling terhubung: human system, airline strategy, dan national aviation ecosystem. Tiga lapisan yang masing-masing bisa menjadi titik lemah — atau titik kekuatan — bagi keberlanjutan industri ini.
Untuk mempermudah cara pandang ini, saya menyebutnya sebagai:
Aviation Sustainability System Framework — sebuah kerangka yang melihat keberlanjutan penerbangan sebagai interaksi tiga lapisan yang tidak bisa dipisahkan:
• Human system (cockpit & cabin)
• Airline strategy
• National aviation ecosystem
Ketiganya bukan berdiri sendiri. Mereka saling menguatkan — atau saling melemahkan. Dan kegagalan pada satu lapisan hampir selalu akan merambat ke seluruh sistem.
Sustainability dalam penerbangan, dengan demikian, bukanlah hasil dari satu inisiatif besar, tetapi hasil dari keselarasan sistem secara keseluruhan.
Tiga lapisan. Tiga artikel. Dan satu pertanyaan yang ingin saya jawab bersama Anda.
Dimulai dari tempat yang paling dekat dengan penerbangan nyata — namun paling jarang masuk dalam agenda besar sustainability: kokpit dan kabin pesawat. ✈
