Meningkatnya Ancaman Teror Bom

Teror bom pada 14/01/2016 di Jakarta yang menelan korban jiwa sangat meresahkan masyarakat saat ini. Ternyata apa yang selama ini menjadi ancaman menjadi sebuah kenyataan dan para pelaku teror ini tidak mengenal tempat dan waktu.

Dunia penerbangan nasional selama ini pun masih rentan dengan adanya berbagai ancaman bom. Tercatat selama tahun 2015 ada 10 kasus ancaman bom terhadap penerbangan. Dari sekian banyaknya kasus itu ternyata masih banyak ditemukan jika hal itu masih berupa upaya pengancaman dengan motif yang tidak mendasar. Sebagian besar ancaman terjadi karena faktor keisengan atau faktor emosional dari pengguna jasa penerbangan.

Demikian data ancaman bom sepanjang tahun 2015 :

  1. 23 April 2015 Lion Air JT-250 rute CGK – PDG di Bandara Soekarno – Hatta, Jakarta.
  2. 29 April 2015 Batik Air ID-6870 rute CGK – PLM di Bandara Soekarno – Hatta, Jakarta.
  3. 1 Mei 2015 Lion Air JT-353 rute PDG – CGK di Bandara Minangkabau, Padang.
  4. 4 Mei 2015 Lion Air JT-973 rute BTH – KNO di Bandara Hang Nadim, Batam.
  5. 7 Mei 2015 Lion Air JT-379 rute BTH – KNO di Bandara Hang Nadim, Batam.
  6. 13 Mei 2015 Lion Air JT-330 rute CGK – PLM di Bandara Soekarno – Hatta, Jakarta.
  7. 30 September 2015 Citilink QG-143 rute KNO – CGK di Bandara Kualanamu, Medan.
  8. 26 November 2015 Batik Air ID-6179 rute AMQ – CGK di Bandara Pattimura, Ambon.
  9. 2 Desember 2015 Wings Air IW- 1504 rute AMQ – LUV di Bandara Pattimura, Ambon.
  10. 26 Desember 2015 Batik Air ID-6541 rute KOE – CGK di Bandara El Tari, Kupang.

Dari sekian banyaknya kasus ancaman bom tersebut memang tidak satupun yang menjadi kasus ledakan bom yang sebenarnya. Bagaimana kita menyikapi hal seperti ini dari sudut pandang profesi kita? Ancaman seperti ini yang terjadi dalam rentang waktu yang cukup pendek dan frekuensi yang cukup sering bisa mempengaruhi faktor psikologis manusia. Bisa saja hal ini terjadi dengan kesengajaan agar kita menjadi bosan mendengarnya dan lengah terhadap ancaman yang sebenarnya dan dijalankan dengan cara terorganisir.

Tidak tertutup kemungkinan para pelaku teror akan mencoba melakukan ancaman atau peledakan pada suatu penerbangan. Sudah semestinya ada langkah – langkah strategis dan komprehensif dari semua pihak yang berkepentingan baik dari pemerintah, operator, otoritas bandara, penegak hukum dan kita sebagai ujung tombak misi penerbangan. Semua potensi yang bisa menjadi celah dari hal yang terkecil sudah semestinya diwaspadai dan ditangani dengan baik sebelum bereskalasi menjadi hal yang jauh lebih besar. Harus dilakukan evaluasi mengenai prosedur keamanan penerbangan yang sudah ada agar bisa mencapai sesuatu yang ideal dan teraman.

Contoh kasus untuk peledakan bom nyata pada pesawat dan fasilitas lain penerbangan sudah cukup banyak, mari kita kilas balik sejenak contoh kasus-kasus peledakan bom yang terjadi di dunia penerbangan :

  • Pan Am Flight 830 11 Agustus 1982 ,Boeing 747. Bom yang meledak tersebut dipasang oleh  Mohammed Rashed yang terhubung oleh grup teroris dari Palestina.
  • Gulf Air Flight 771 23 September 1983, meledak oleh bom pada saat pendaratan menuju Abu Dhabi International Airport, bom dipasang di kompartemen bagasi.
  • Pan Am Flight 103/Lockerbie,Boeing 747. Korban jiwa 270 orang, pada 21 December 1988, pesawat hancur oleh bom PETN.
  • Metrojet Flight 9268, Korban jiwa 224 orang. Di daerah Sinai Peninsula, Mesir pada 31 Oktober 2015. Bom diklaim dilakukan oleh ISIL.

Sebagai profesi pilot sudah jelas kita harus bisa memberikan kontribusi kepada pihak berwenang untuk meningkatkan faktor keamanan penerbangan ini. Jika suatu penerbangan terancam bukan hanya pesawat atau penumpangnya saja yang terancam tetapi kita sendiri juga terancam. Dalam menjalankan tugas keseharian kita sebagai pilot dalam kerangka keamanan penerbangan ada baiknya kita melakukan hal – hal seperti :

  1. Mereview  prosedur ancaman bom, terutama strategi yang akan kita lakukan dalam keadaan darurat jika bom ditemukan di pesawat. Secara umum jika bom ditemukan di dalam pesawat langkah yang bisa kita lakukan seperti :
    • Tetap tenang dan jangan panik.
    • Koordinasi dengan pihak ATC dan operator.
    • Persiapkan proses disembarkasi yang cepat dan lancar (bila pesawat pada posisi parkiran pesawat).
    • Posisikan pesawat pada area isolasi (bila berada di taxiway).
    • Turunkan ketinggian pesawat secara perlahan untuk meminimalkan perubahan tekanan udara dan atur suhu di dalam pesawat sestabil mungkin (bila pesawat sudah mengudara).
    • Lakukan pencarian lokasi bom dan pastikan lokasi ditemukannya bom tidak bergeser atau tersentuh.
    • Matikan sumber kelistrikan di dekat area bom jika memungkinkan.Pindahkan lokasi penumpang sejauh mungkin dari posisi bom.
    • Persiapkan langkah pemindahan bom ke area Least Risk Bomb Location (umumnya di pintu kanan belakang) dan lakukan teknik untuk mengurangi efek dari ledakan jika proses pendaratan tidak bisa segera dilakukan.
    • Setelah disembarkasi selesai maka posisikan penumpang dan kru sejauh mungkin dari pesawat, paling tidak 100 meter dari pesawat.
    • Koordinasikan penanganan bom dengan pihak yang berwenang.
  2. Persiapan mental dan pikiran dalam menghadapi dan mengatasi situasi darurat dalam penerbangan. Tujuan utama dari mengatasi keadaan darurat ini adalah untuk keselamatan, keamanan dan perlindungan maksimum bagi penumpang, kru dan aset perusahaan.
  3. Meningkatkan kewaspadaan dari titik awal proses penerbangan. Lakukan pengamatan terhadap hal – hal yang bisa menjadi potensi dari lolosnya pemasukan bom ke dalam pesawat. Tingkatkan kewaspadaan pada berbagai lini yang terkait dengan operasional penerbangan.
  4. Memberikan briefing dengan penekanan pada keberhasilan proses teamwork dalam mengangani potensi masalah yang bisa mengganggu penerbangan. Lakukan review prosedur kepada seluruh kru yang bertugas akan gugus tugas masing – masing dan tekankan pentingnya CRM dalam keberhasilan misi penerbangan.
  5. Melakukan koordinasi dengan pihak terkait baik dari operator, otoritas atau penegak hukum bila menemukan hal – hal yang  mencurigakan. Laporkan segala potensi yang bisa membahayakan seperti penumpukan penumpang menjelang X-ray scan, prosedur body scan, area masuk terbatas atau hal lain yang berhubungan dengan pihak di luar juridiksi kita.
  6. Tidak ketinggalan pula untuk berdoa demi keselamatan kita semua. Apapun usaha terbaik yang kita lakukan tidak terlepas dari kuasa Tuhan YME yang menentukan.

Mungkin hal – hal tersebut bisa membantu dalam kelancaran tugas penerbangan kita dalam konteks tercapainya keamanan penerbangan yang baik.

 

“Moving Forward”

Heri Martanto

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s