Renungan Profesi Pilot Awal Tahun 2016 (Ikatan Pilot Indonesia)

Sepanjang tahun 2015 mungkin bisa dikatakan tahun yang kelam untuk profesi pilot. Kejadian demi kejadian berupa kecelakaan penerbangan berulang kali terjadi. Dalam catatan kami terjadi 11 peristiwa baik itu berupa insiden maupun aksiden sebagai berikut :

  1. 11/01/2015 Trigana DHC6 di Enarotali , runway excursion.
  2. 03/02/2015 Garuda ATR 72 di Bandara Lombok Praya, runway excursion, nose gear collapse.
  3. 04/03/2015 Deraya ATP di Wamena, runway excursion on landing, gear collapse, broken wing.
  4. 20/04/2015 Wings ATR 72 di Sumbawa Besar, 4.8G touchdown and go-around.
  5. 02/06/2015 Garuda B737-800 di Makassar, overrun runway on landing.
  6. 02/08/2015 Citilink A320 di Padang, runway excursion on landing.
  7. 16/08/2015 Trigana ATR 42 di Oksibil, aircraft collided with terrain.
  8. 28/08/2015 Cardig B737-300 di Wamena, main gear collapse on landing short of runway.
  9. 02/10/2015 Aviastar DHC6 dekat Makassar, aircraft collided with terrain.
  10. 06/11/2015 Batik B737-900 di Yogyakarta, overrun runway on landing.
  11. 21/12/2015 Kalstar E195 di Kupang , overrun runway on landing.

Kecelakaan penerbangan masih demikian banyak terjadi yang berhubungan dengan profesi pilot. Apa saja faktor penyebabnya? Mengapa terjadi? Siapa yang harus bertanggung jawab? Dan masih akan ada banyak pertanyaan lainnya atas hal ini.

Pasti dibutuhkan suatu langkah yang komprehensif dari semua pemangku kepentingan di bidang penerbangan nasional untuk menanggulangi dan mencegah kejadian – kejadian ini terulang kembali. Sebelum kita melangkah ke lingkup yang lebih besar ada baiknya kita sebagai seorang pilot profesional melakukan penilaian kedalam atau “self assessment” akan faktor penting yang terkadang terlupakan karena rutinitas dari pekerjaan kita ini.

Mari kita melihat kembali kepada prinsip “Airmanship” yang sering kita dengar tetapi terkadang kita lupa maksud dari kata tersebut. “Airmanship is the consistent use of good judgment and well-develop skills to accomplish flight objective”(Tony Kern, 1996). “Airmanship” akan muncul berdasar dari : “Discipline”, “Skills”, “Proficiency”, “Knowledge”, “Sittuational Awareness” dan “Judgment”. Konsekuensi dari kurangnya “Airmanship” ini bisa memunculkan insiden atau aksiden.

Airmanship ini begitu penting bagi profesi kita, mencakup dari disiplin profesi kita sampai kepada pengambilan keputusan sewaktu menjalankan tugas penerbangan. Jika salah satu aspek tidak terpenuhi maka kita belum bisa dikatakan memiliki airmanship yang baik yang pada akhirnya akan menurunkan nilai profesionalitas kita sendiri.

Di tahun 2016 yang baru tiba ini tidak ada salahnya jika masing – masing dari kita memasukkan peningkatan airmanship ini dalam resolusi tahunan kita demi keselamatan penerbangan dan profesionalisme yang lebih baik sebagai seorang pilot bagi kita semua.

“Moving Forward”
Heri Martanto

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s